Archive for 2014

Ketimpangan yang Langgeng

Ketimpangan pendapatan kita  demikian parahnya.1% elit finansial-ekonomi menguasai 41% kemakmuran. UU pilkada berpotensi memperburuk situasi dengan memunculkan ketimpangan politik , makin meminggirkan mereka yang selama ini voiceless dan powerless.

Ramuan oplosan  ketimpangan  pendapatan dengan dan ketimpangan  politik ini, daya rusaknya sangat efektif.  Menjadi ancaman  langsung bagi kehidupan generasi berikut, ke anak cucu.

Jauh-jauh hari Sahabat Nabi, Amirul Mukminin, Umar ibn Khattab sudah berpesan:  Barangsiapa yang hak nya dirampas, namun diam saja. Maka ia seperti setan yang bisu.

imho

Monday, October 6, 2014
Posted by Unknown

Arti penting Kota – Kota Kelas Menengah di Daerah

Satu hal yang menarik dari laporan McKinsey tentang Indonesia: 'Membuka grendel  potensi ekonomi kepulauan' (2012). Lansekap pembangunan kita sedang berubah drastis. Pada 2030 akan ada 71% penduduk yang tinggal di perkotaan. Fakta yang mesti disoroti:  kota-kota kelas menengah lah- terutama yang diluar Jawa-yang berpotensi besar menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia. Batam, Pekanbaru, Makassar, Balikpapan termasuk diantaranya. Saat ini ekonomi kota-kota tersebut  tumbuh diatas 7%, -bahkan ada yang mencapai 9%-, jauh diatas rerata pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan jumlah penduduk 1-2 juta yang didominasi kaum muda, kota kota itu mempunyai kapasitas bertumbuh lebih lapang dibanding Jakarta misalnya, yang hanya bisa tumbuh kurang dari 6% , pun dengan kondisi infrastruktur yg saat ini masih 'ngesot'.

Paralel dengan itu. Kepemimpinan yang tampil sebagai pembaharu adalah juga dari kota -kota kelas menengah. Ridwan Kamil , Jokowi di Solo dan Ahok dari Bangka Belitung misalnya. Yang lain pun menyusul. Saat ini Kab. Bantaeng di Sulsel dipimpin seorang doktor  (Pak Nurdin Abdullah) yang sebelumnya menjadi direksi perusahaan Jepang, dan saat ini daerahnya berakselerasi dengan amat baik. Mereka mendorong tata kelola pemerintahan yang efektif dan memberangus korupsi. Mereka juga menjadi bekal itikad politik yang mumpuni untuk menggenjot habis laju pembangunan infrastruktur.

Dari sini,  mengcopy-paste pola di Jakarta jelas bukan jawaban. Pohon-pohon inovasi dan solusi itu justru bertumbuh di kota  menengah di daerah. Untuk kualitas 'taman ekonomi' yang lebih sehat,  pohon  baru di daerah lah yang harus dipelihara,  demi mengimbangi dominasi pohon di Jakarta.

Kenyataannya kita telah kehilangan momentum. Kota -kota besar kita  gagal membangunan bandara, pelabuhan, kereta api, jalan raya, yang bisa bersaing 'neck to neck' dengan Tiongkok. Bisa jadi ini saatnya energi pembanguan infrastruktur itu dialihkan ke kota-kota kelas menengah di daerah.

Dan tak lama lagi, bakal dijumpai orang Jakarta yang  terpana, terbengong  mendengarkan cerita sejawat mereka di kota lain di daerah , tentang betapa mudahnya bepergian di kota mereka dengan transportasi umum yang  tertata, tentang kualitas kesehatan dan pendidikan mereka  yang lebih memadai.

Pertanyaannya bukan  apakah kota - kota daerah mau mengejar ketertinggalannya, namun apakah Jakarta mau memberi kesempatan kota-kota di daerah untuk tumbuh pada kecepatan jelajahnya ?

 

Corporatocracy

Corporatocracy

“Ternyata mustahil untuk membantah bahwa tim kami ada disini untuk alasan yang semata egois. Kami mendorong kebijakan luar negeri dan kepentingan perusahaan Amerika. Kami disetir oleh  keserakahan, ketimbang   niatan untuk membuat hidup mayoritas orang Indonesia menjadi lebih baik. Sebuah kata muncul di benakku: Corporatocracy.” - dikutip dari ‘Confessions of an Economic Hit Man’ karya John Perkins.

Korporatokrasi sebagai sebuah sistem ekonomi dan politik yang dikendalikan oleh perusahaan, diciptakan semata untuk melayani ‘vested interest’,  yang pada saat yang sama melupakan moral serta  prinsip ekonomi yang bermartabat. John Perkins - yang banyak melakukan investigasi dari kasus di Indonesia,  menulis :  tugas mereka adalah “menyakinkan negara berkembang untuk menerima pinjaman dalam jumlah amat besar,  untuk  mengalirkan dengan corong  uang tersebut ke perusahaan Amerika. Pemerintah Amerika serta lembaga donor internasional kemudian meminta ‘daging kiloan’ sebagai imbal baliknya, termasuk akses ke sumberdaya alam, kerjasama militer serta dukungan politik”

Menyambung  poin oleh salah satu Capres : “Jika kita memiliki sapi yang sehat, yang  gemuk di pekarangan kita. Kemudian ada orang lain lewat. Wah sapinya gemuk ya?, ternyata  kemudian dia ambil, dia angkut ke truk. Ya , memang kita sendiri sebagai pemilik yang salah.”
Tidak banyak yang bisa kita lakukan saat sapinya sudah seberang laut , dijual orang. Namun paling tidak kita sebagai pemilik saatnya  punya perangkat yang mumpuni, yang bisa mengatasi - atau  setidaknya mengimbangi  - kecanggihan perangkat pelaku korporatokrasi ini.

Korporatokrasi adalah fenomena ‘multifacet’, yang melibatkan  arena ekonomi, sosial, lingkungan serta politik.  Oleh karenanya kita  perlu  sebuah sistem yang dengannya kita bisa berpikir.  Dalam hal mengatasi kerusakan,  kita perlu perangkat bagi strategi dan proses implementasinya . Perangkat  yang tidak semata mengatasi  nihilnya struktur pemetaan korporatokrasi ini, namun juga  membantu kita menginvestigasi permasalahan terbesarnya,  yang bisa bercerita secara akurat tentang skala kerusakannya. Sebuah perangkat   yang memadukan kompleksitas dan menguak keterkaitan antara berbagai modus korporatokrasi , serta  memetakan lokasi dan alokasi aktivitasnya. Dengan harapan bisa secara transparan memberikan gambaran ,  untuk kemudian  pada akhirnya memicu tindakan bersama.

Meski apa yang lazim terjadi sekarang  adalah   demo crazy, namun kita harus terus berproses menuju kedewasaan. Konsolidasi demokrasi mesti terus dilakukan, secara konsisten dan kontinyu. Idealnya begitu demokrasi kita mapan, kita juga akan punya kapasitas kelembagaan yang memadai untuk memberantas korporatokrasi ini. 

Friday, May 2, 2014
Posted by Unknown

Memburuknya Ketimpangan Ekonomi

Meski pertumbuhan ekonomi sempat menyentuh angka 6%. Sepuluh tahun masa pemerintahan SBY , tidak  berbuah pertumbuhan  berkualitas. Jurang ketimpangan ekonomi makin menganga. Pertumbuhan hanya terjadi di segelintir yang kaya, dengan ongkos memiskinkan mereka yang sudah miskin. Indeks Koefisien Gini  menyentuh 0.41 , memburuk dari posisi   semula di 0.35 pada tahun 2005. Ini sudah melewati ambang ketegangan sosial -menurut Bank Dunia- di level 0.40. Tikungan yang berbahaya, karena kita tidak pernah siap dengan resolusi konflik.

Visi yang kuat, dan tentu saja yang dijalani konsisten, akan banyak menolong. Fakta ini cukup fundamental untuk segera di tindak lanjuti dalam program kerja terukur. Namun jika semata terpaku pada aturan dan prosedur formal, kepentingan ini tidak akan tertangkap radar penyelenggara negara.

Pemerintah mestinya fokus memperkuat akses bagi 'poorest of the poor' :  jaminan kesehatan, pendidikan berkualitas, perumahan self-help,  transportasi umum dan kredit mikro tanpa agunan. Sehingga mereka bisa ikut gerbong vertikal yang ditarik kelas menengah.
Friday, April 25, 2014
Posted by Unknown

Beranjak Dari Perahu ke Lokomotif Perubahan : Fenomena Jokowi


Jika kita membolak balik fakta sejarah, tak banyak pemimpin Jakarta yang  mampu secara total bekerja demi kebaikan warganya. A true leader, not a project dealer. Yang fokus memboyong hasil pembangunan ke hadapan masyarakat. Dengan capaian yang riil, berdampak langsung pada hajat hidup hari ke harinya warga. Yang bukan ritual semu ala pejabat, bukan pencitraan, bukan  semata polesan polling politik. 

Setelah ketokohan Ali Sadikin, sekarang banyak orang menaruh harapan pada diri Jokowi. Dari apa yang telah beliau lakukan di Solo, dengan pendekatannya yang lebih humanis dan  pro masyarakat bawah. Rekam jejaknya  tampak pada peremajaan pasar  tradisional tanpa menggusur, reformasi birokrasi dan upaya transparansi.

Wajar saja jika kemudian orang berharap dia dapat meng-copy paste nya di Jakarta. Jokowi adalah satu dari sedikit  pemimpin formal yang dipercaya dapat merubah lansekap kebijakan di Jakarta. Dia diandalkan untuk merubah haluan mesin birokrasi untuk fokus melayani.

Perahu perubahan ini tentunya perlu waktu.  Untuk bisa konsisten melaju dengan kecepatan jelajahnya. Oleh waktu pulalah, integritas, itikad dan determinasi mendapatkan ujian yang sebenarnya. Perahu perubahan juga tak selalunya didukung angin yang bersahabat. Ada kalanya musim berganti dan angin  berbalik, menggoyang biduk demikian kerasnya. 

Saat ini perahu Jokowi mesti berhadapan dengan ombak politik yang  secara brutal hanya fokus pada hasil jangka pendek. Badai kepentingan yang melulunya tentang pemilu berikut, bukan generasi berikut. Belum lagi godaan untuk posisi yang lebih mentereng  yang juga tak kurang kencangnya. A perfect storm.

Ini faktanya : Perahu  Jokowi - yang diharapkan fokus pada kerja kerja untuk masyarakat-bagaimanapun juga energinya terbatas. Sad but true. Dan  bisa jadi tidak cukup  daya untuk menaklukkan terjangan ombak badai itu. Kalau pun bisa bertahan, sampai kapan?

Saatnya  berpikir realistis - dan  sistemik kalau kita cukup beruntung. Hope for the best and prepare for the worst. Dalam urusan merawat kepentingan masyarakat banyak, serta  membangun  civil society yang kuat, sayangnya,  kita tidak bisa hanya mengandalkan perahu-perahu individu.

Sudah masanya untuk beralih dan   gunakan  lokomotif yang lebih kuat. Lokomotif itu  adalah 'partisipasi masyarakat'. Partisipasi yang otentik, yang terbuka dan powerful. Yang kita rakit, kita bangun perlahan tapi pasti. Tidak  cukup hanya itu, kita perlu buat juga rel perubahannya:  Pengembangan kapasitas, birokrasi yang berorientasi kinerja,transparansi  dan kepastian hukum. Rel yang memberikan kita kepastian akan perbaikan, yang fokus dan ajeg membawa ke stasiun final: masyarakat madani yang kuat dan mandiri. Kini saatnya membangun sebuah sistem yang tidak semata bergantung pada kebaikan hati individu. Sebuah sistem  dengan bangunan  kokoh, yang kuat menarik segenap potensi warganya, membawa  pada kualitas hidup  yang lebih baik.
Wednesday, April 16, 2014
Posted by Unknown

About Casablanca elevated road (JLNT)

The Casablanca elevated road (JLNT) that was initiated in the era governor Foke and built at a cost of Rp 1 trillion seems fairly expensive for a 'red carpet' specials for private cars. Perhaps not about the “T”  figures , but  in terms of the  decision to choose to build such an elevated road.

Tackling problem of congestion by building such elevated roads  is like a thirsty man drinking from sea water. Thirst is still there, but even more sea water is required. More and more elevated roads need  to be built.

In terms of its  function, for example, if one  says  that  the 3.7 km elevated road is able to cope with congestion. Certainly, the congestion  simply moved to the end of the elevated road, a bottle neck created  when the elevated traffic  met the vehicle flow underneath. And a large mall located nearby at Jl.Saharjo  for example, functions as  the bottle cap. Simply  fit.

Visually-aesthetic, in fact, just a few hours after its formal  inauguration, this JLNT already get  jammed . With lights flickering crowded vehicle -  no doubt - it appears like a  20 meters high giant storefront that displays snaking gridlock right in the heart of Jakarta. Let's enjoy the show  Bro

It's all about choices. Who gets and who doesn’t. Instead of favors private car – together with its exhaust of course-, this kind of infrastructure development initiatives should be a pragmatic solution for the development of public transportation system.
Tuesday, January 21, 2014
Posted by Unknown

Popular Post

Blogger templates

Sample Text

Blogger Tricks

- Copyright © City's Wish List -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -