Posted by : Unknown Friday, May 2, 2014

Corporatocracy

“Ternyata mustahil untuk membantah bahwa tim kami ada disini untuk alasan yang semata egois. Kami mendorong kebijakan luar negeri dan kepentingan perusahaan Amerika. Kami disetir oleh  keserakahan, ketimbang   niatan untuk membuat hidup mayoritas orang Indonesia menjadi lebih baik. Sebuah kata muncul di benakku: Corporatocracy.” - dikutip dari ‘Confessions of an Economic Hit Man’ karya John Perkins.

Korporatokrasi sebagai sebuah sistem ekonomi dan politik yang dikendalikan oleh perusahaan, diciptakan semata untuk melayani ‘vested interest’,  yang pada saat yang sama melupakan moral serta  prinsip ekonomi yang bermartabat. John Perkins - yang banyak melakukan investigasi dari kasus di Indonesia,  menulis :  tugas mereka adalah “menyakinkan negara berkembang untuk menerima pinjaman dalam jumlah amat besar,  untuk  mengalirkan dengan corong  uang tersebut ke perusahaan Amerika. Pemerintah Amerika serta lembaga donor internasional kemudian meminta ‘daging kiloan’ sebagai imbal baliknya, termasuk akses ke sumberdaya alam, kerjasama militer serta dukungan politik”

Menyambung  poin oleh salah satu Capres : “Jika kita memiliki sapi yang sehat, yang  gemuk di pekarangan kita. Kemudian ada orang lain lewat. Wah sapinya gemuk ya?, ternyata  kemudian dia ambil, dia angkut ke truk. Ya , memang kita sendiri sebagai pemilik yang salah.”
Tidak banyak yang bisa kita lakukan saat sapinya sudah seberang laut , dijual orang. Namun paling tidak kita sebagai pemilik saatnya  punya perangkat yang mumpuni, yang bisa mengatasi - atau  setidaknya mengimbangi  - kecanggihan perangkat pelaku korporatokrasi ini.

Korporatokrasi adalah fenomena ‘multifacet’, yang melibatkan  arena ekonomi, sosial, lingkungan serta politik.  Oleh karenanya kita  perlu  sebuah sistem yang dengannya kita bisa berpikir.  Dalam hal mengatasi kerusakan,  kita perlu perangkat bagi strategi dan proses implementasinya . Perangkat  yang tidak semata mengatasi  nihilnya struktur pemetaan korporatokrasi ini, namun juga  membantu kita menginvestigasi permasalahan terbesarnya,  yang bisa bercerita secara akurat tentang skala kerusakannya. Sebuah perangkat   yang memadukan kompleksitas dan menguak keterkaitan antara berbagai modus korporatokrasi , serta  memetakan lokasi dan alokasi aktivitasnya. Dengan harapan bisa secara transparan memberikan gambaran ,  untuk kemudian  pada akhirnya memicu tindakan bersama.

Meski apa yang lazim terjadi sekarang  adalah   demo crazy, namun kita harus terus berproses menuju kedewasaan. Konsolidasi demokrasi mesti terus dilakukan, secara konsisten dan kontinyu. Idealnya begitu demokrasi kita mapan, kita juga akan punya kapasitas kelembagaan yang memadai untuk memberantas korporatokrasi ini. 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blogger templates

Sample Text

Blogger Tricks

- Copyright © City's Wish List -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -