- Back to Home »
- Corporatocracy
Corporatocracy
“Ternyata mustahil untuk membantah bahwa tim kami ada disini untuk alasan yang semata egois. Kami mendorong kebijakan luar negeri dan kepentingan perusahaan Amerika. Kami disetir oleh keserakahan, ketimbang niatan untuk membuat hidup mayoritas orang Indonesia menjadi lebih baik. Sebuah kata muncul di benakku: Corporatocracy.” - dikutip dari ‘Confessions of an Economic Hit Man’ karya John Perkins.
Korporatokrasi sebagai sebuah sistem ekonomi dan politik yang dikendalikan oleh perusahaan, diciptakan semata untuk melayani ‘vested interest’, yang pada saat yang sama melupakan moral serta prinsip ekonomi yang bermartabat. John Perkins - yang banyak melakukan investigasi dari kasus di Indonesia, menulis : tugas mereka adalah “menyakinkan negara berkembang untuk menerima pinjaman dalam jumlah amat besar, untuk mengalirkan dengan corong uang tersebut ke perusahaan Amerika. Pemerintah Amerika serta lembaga donor internasional kemudian meminta ‘daging kiloan’ sebagai imbal baliknya, termasuk akses ke sumberdaya alam, kerjasama militer serta dukungan politik”
Menyambung poin oleh salah satu Capres : “Jika kita memiliki sapi yang sehat, yang gemuk di pekarangan kita. Kemudian ada orang lain lewat. Wah sapinya gemuk ya?, ternyata kemudian dia ambil, dia angkut ke truk. Ya , memang kita sendiri sebagai pemilik yang salah.”
Tidak banyak yang bisa kita lakukan saat sapinya sudah seberang laut , dijual orang. Namun paling tidak kita sebagai pemilik saatnya punya perangkat yang mumpuni, yang bisa mengatasi - atau setidaknya mengimbangi - kecanggihan perangkat pelaku korporatokrasi ini.
Korporatokrasi adalah fenomena ‘multifacet’, yang melibatkan arena ekonomi, sosial, lingkungan serta politik. Oleh karenanya kita perlu sebuah sistem yang dengannya kita bisa berpikir. Dalam hal mengatasi kerusakan, kita perlu perangkat bagi strategi dan proses implementasinya . Perangkat yang tidak semata mengatasi nihilnya struktur pemetaan korporatokrasi ini, namun juga membantu kita menginvestigasi permasalahan terbesarnya, yang bisa bercerita secara akurat tentang skala kerusakannya. Sebuah perangkat yang memadukan kompleksitas dan menguak keterkaitan antara berbagai modus korporatokrasi , serta memetakan lokasi dan alokasi aktivitasnya. Dengan harapan bisa secara transparan memberikan gambaran , untuk kemudian pada akhirnya memicu tindakan bersama.
Meski apa yang lazim terjadi sekarang adalah demo crazy, namun kita harus terus berproses menuju kedewasaan. Konsolidasi demokrasi mesti terus dilakukan, secara konsisten dan kontinyu. Idealnya begitu demokrasi kita mapan, kita juga akan punya kapasitas kelembagaan yang memadai untuk memberantas korporatokrasi ini.