Archive for April 2014
Memburuknya Ketimpangan Ekonomi
Meski pertumbuhan ekonomi sempat menyentuh angka 6%. Sepuluh tahun masa pemerintahan SBY , tidak berbuah pertumbuhan berkualitas. Jurang ketimpangan ekonomi makin menganga. Pertumbuhan hanya terjadi di segelintir yang kaya, dengan ongkos memiskinkan mereka yang sudah miskin. Indeks Koefisien Gini menyentuh 0.41 , memburuk dari posisi semula di 0.35 pada tahun 2005. Ini sudah melewati ambang ketegangan sosial -menurut Bank Dunia- di level 0.40. Tikungan yang berbahaya, karena kita tidak pernah siap dengan resolusi konflik.
Visi yang kuat, dan tentu saja yang dijalani konsisten, akan banyak menolong. Fakta ini cukup fundamental untuk segera di tindak lanjuti dalam program kerja terukur. Namun jika semata terpaku pada aturan dan prosedur formal, kepentingan ini tidak akan tertangkap radar penyelenggara negara.
Pemerintah mestinya fokus memperkuat akses bagi 'poorest of the poor' : jaminan kesehatan, pendidikan berkualitas, perumahan self-help, transportasi umum dan kredit mikro tanpa agunan. Sehingga mereka bisa ikut gerbong vertikal yang ditarik kelas menengah.
Friday, April 25, 2014
Posted by Unknown
Beranjak Dari Perahu ke Lokomotif Perubahan : Fenomena Jokowi
Jika kita membolak balik fakta sejarah, tak banyak pemimpin
Jakarta yang mampu secara total bekerja demi kebaikan warganya. A true
leader, not a project dealer. Yang fokus memboyong hasil pembangunan ke hadapan
masyarakat. Dengan capaian yang riil, berdampak langsung pada hajat hidup hari
ke harinya warga. Yang bukan ritual semu ala pejabat, bukan pencitraan,
bukan semata polesan polling politik.
Setelah ketokohan Ali Sadikin, sekarang banyak orang menaruh harapan
pada diri Jokowi. Dari apa yang telah beliau lakukan di Solo, dengan
pendekatannya yang lebih humanis dan pro masyarakat bawah. Rekam
jejaknya tampak pada peremajaan pasar tradisional tanpa menggusur,
reformasi birokrasi dan upaya transparansi.
Wajar saja jika kemudian orang berharap dia dapat meng-copy paste
nya di Jakarta. Jokowi adalah satu dari sedikit pemimpin formal yang
dipercaya dapat merubah lansekap kebijakan di Jakarta. Dia diandalkan untuk
merubah haluan mesin birokrasi untuk fokus melayani.
Perahu perubahan ini tentunya perlu waktu. Untuk bisa
konsisten melaju dengan kecepatan jelajahnya. Oleh waktu pulalah, integritas,
itikad dan determinasi mendapatkan ujian yang sebenarnya. Perahu perubahan juga
tak selalunya didukung angin yang bersahabat. Ada kalanya musim berganti dan
angin berbalik, menggoyang biduk demikian kerasnya.
Saat ini perahu Jokowi mesti berhadapan dengan ombak politik
yang secara brutal hanya fokus pada hasil jangka pendek. Badai
kepentingan yang melulunya tentang pemilu berikut, bukan generasi berikut. Belum
lagi godaan untuk posisi yang lebih mentereng
yang juga tak kurang kencangnya. A perfect storm.
Ini faktanya : Perahu Jokowi - yang diharapkan fokus pada
kerja kerja untuk masyarakat-bagaimanapun juga energinya terbatas. Sad but
true. Dan bisa jadi tidak cukup daya untuk menaklukkan terjangan ombak badai
itu. Kalau pun bisa bertahan, sampai kapan?
Saatnya berpikir realistis - dan sistemik kalau kita
cukup beruntung. Hope for the best and prepare for the worst. Dalam urusan
merawat kepentingan masyarakat banyak, serta membangun civil
society yang kuat, sayangnya, kita tidak
bisa hanya mengandalkan perahu-perahu individu.
Sudah masanya untuk beralih dan gunakan lokomotif
yang lebih kuat. Lokomotif itu adalah 'partisipasi masyarakat'.
Partisipasi yang otentik, yang terbuka dan powerful. Yang kita rakit, kita
bangun perlahan tapi pasti. Tidak cukup hanya itu, kita perlu buat juga
rel perubahannya: Pengembangan kapasitas, birokrasi yang berorientasi
kinerja,transparansi dan kepastian hukum. Rel yang memberikan kita
kepastian akan perbaikan, yang fokus dan ajeg membawa ke stasiun final:
masyarakat madani yang kuat dan mandiri. Kini saatnya membangun sebuah sistem
yang tidak semata bergantung pada kebaikan hati individu. Sebuah sistem
dengan bangunan kokoh, yang kuat menarik segenap potensi warganya,
membawa pada kualitas hidup yang lebih baik.
Wednesday, April 16, 2014
Posted by Unknown